Petani Kelapa Sawit

Petani sawit adalah petani dengan kurang dari 25 hektar perkebunan kelapa sawit. Rata-rata, petani sawit mengelola sekitar 2 hektar per rumah tangga. Secara tradisional, keluarga menyediakan sebagian besar tenaga kerja dan menanam tanaman lain untuk subsisten1.

Ada dua jenis petani sawit: Plasma dan Swadaya.

Dibatasi ke pabrik tertentu berdasarkan kontrak atau perjanjian kredit
Otonomi untuk bekerja dengan operator pabrik atau agen pilihan mereka
Menerima supervisi dan pelatihan tentang penanaman, teknik pengelolaan tanaman oleh manajer pabrik
Akses ke skema atau bantuan dari lembaga pemerintah, bisnis atau koperasi
Tinggi
Rendah

Pada 2015, petani sawit di Indonesia memiliki sekitar 40% dari perkebunan kelapa sawit – petani swadaya sebanyak 22,5% (2,54 juta ha) dan petani plasma sebanyak 17,7% (2 juta ha). Diperkirakan ada lebih dari 1 juta petani sawit di Indonesia22.

Menurut Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Initiative (PASPI), petani sawit akan mengelola 60% perkebunan kelapa sawit Indonesia pada tahun 2030. Ini berarti bahwa petani sawit adalah kelompok besar yang harus dimasukkan dalam perjalanan untuk membuat minyak kelapa sawit berkelanjutan menjadi sebuah norma.

Baca: Empat alasan mengapa petani sawit adalah kunci dari minyak kelapa sawit berkelanjutan

1
Definisi Petani sawit RSPO. Roundtable On Sustainable Palm Oil (RSPO). Dapat dilihat di sini.
2
Tinjauan Umum Petani Sawit Indonesia. Daemeter, November 2015. Diakses di sini.

MUSIM MAS MEMBANTU PETANI SAWIT DALAM PERJALANAN KEBERLANJUTAN

Petani swadaya biasanya berada di posisi yang kurang menguntungkan dikarenakan kurangnya akses akan pengetahuan teknis dan operasional yang terbaru, akses ke pasar dan sumber daya keuangan yang terbatas. Hal ini seringkali berdampak pada produktivitas hasil yang lebih rendah, profitabilitas dan standar keberlanjutan. Petani plasma dikarenakan memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan memiliki akses ke pengetahuan teknis dan sumber daya keuangan. Ini tercakup dalam skema KKPA kami.

Penelitian menunjukkan bahwa hasil panen petani sawit adalah 116% di bawah perusahaan perkebunan di Indonesia. Penelitian ini juga menyoroti praktik pertanian petani plasma dan bagaimana cara meningkatkannya, seperti penggunaan pupuk yang efisien dan periode panen yang optimal.

Karena petani sawit bergantung pada hutan dan lingkungan untuk mata pencaharian mereka, penting untuk mempromosikan produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan untuk memastikan ketahanan dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Apa program petani sawit?

Diperuntukkan petani swadaya, program ini bertujuan untuk mengintegrasikan petani swadaya ke dalam rantai pasokan minyak kelapa sawit berkelanjutan. Kurikulumnya dikembangkan dari studi diagnostik petani sawit dan dikembangkan di sekitar lima komponen yang akan mendorong petani sawit untuk memproduksi kelapa sawit secara berkelanjutan.

3
Studi Diagnostik tentang Petani Sawit Indonesia. IFC, 2013. Dapat diakses di sini.
4
Studi Diagnostik tentang Petani Sawit Indonesia. IFC, 2013. Dapat diakses di sini.

  • Hasil

    Peningkatan praktik agrikultur kelapa sawit. Peningkatan kualitas dan hasil. Peningkatan pendapatan dan taraf hidup.

  • Akses Pasar

    Memperbesar akses pasar dengan meningkatkan komunikasi antara petani sawit dan pabrik kelapa sawit. Meningkatkan akses ke pembiayaan pertanian untuk pupuk.

  • Peremajaan Kebun Kelapa Sawit

    Mendukung upaya peremajaan dan penanaman kembali pohon kelapa sawit yang sudah tua.

  • Legitimasi

    Konfirmasi legalitas sertifikat tanah petani sawit

  • Alternate livelihoods

    Assist smallholders to generate alternative income.

  • Gambar 1: Empat komponen utama dari program petani sawit Musim Mas

    Modul kurikulum di dalam komponen program petani sawit dirancang sedemikian rupa sehingga petani sawit dapat bekerja menuju dan mencapai kepatuhan kebijakan NDPE (lihat Gambar 2). Modul dan komponen diarahkan untuk meningkatkan mata pencaharian petani sawit. Ini mencakup praktik agrikultur yang baik, literasi keuangan, dan nutrisi pribadi.

    Gambar 2: Modul-modul yang diajarkan dalam program petani sawit Musim Mas

    Meningkatkan akses petani sawit terhadap keuangan dapat memberdayakan mereka menuju keuntungan yang lebih baik, kohesi sosial, dan proteksi lingkungan. Untuk memfasilitasi proses ini, Musim Mas membiayai working paper Singapore Institute of International Affairs (SIIA) untuk mengeksplorasi prospek penyediaan pembiayaan hijau kepada petani sawit.

    Baca working paper lengkap di sini.

    Petani sawit membentuk sekitar 40% dari basis pasokan kami. Penting bagi kami untuk melibatkan sebanyak mungkin petani sawit.

    Untuk sepenuhnya meningkatkan program petani sawit, kami mengembangkan peta jalan dengan tiga fase (lihat Gambar 3 di bawah).

    Gambar 3: Meningkatkan program petani sawit Musim Mas dalam tiga fase

    Program Pengembangan Kelapa Sawit Indonesia untuk Petani Sawit

    Sejak 2015, Musim Mas telah bekerja sama dengan International Finance Corporation (IFC) untuk membantu petani sawit di Sumatera Utara dan Riau untuk memenuhi standar pertanian efisien yang diadopsi oleh organisasi – organisasi besar minyak kelapa sawit.

    Kolaborasi ini dijuluki program Pengembangan Kelapa Sawit Indonesia untuk Petani Sawit, menyediakan pelatihan agronomi bagi petani sawit, akses ke dukungan keuangan dan pasar global, dan pendidikan tentang persyaratan hukum seperti penghentian penggunaan paraquat. Gambar 2 menunjukkan modul utama dalam kurikulum program.

    Sebagai program petani swadaya terbesar di Indonesia, proyek ini bertujuan menjangkau 20.000 petani sawit hingga tahun 2020 dan membangun kapasitas 2.000 petani sawit untuk mencapai sertifikasi RSPO.

    Program petani sawit kami mempertimbangkan keragaman dan kompleksitas etnis Indonesia, kami selalu memastikan untuk menjaga hubungan positif dengan kepala desa dan anggota masyarakat. Kami menawarkan pelatihan dan bantuan untuk membantu petani sawit agar mendapatkan akses ke bantuan keuangan seperti subsidi pemerintah dan program sertifikasi.

    Extension Services Program untuk Pemasok Pihak Ketiga

    Pada 2017, kami memperkenalkan Extension Services Program (ESP) untuk memperluas program petani sawit kami ke petani swadaya dari pemasok pihak ketiga kami. ESP dikembangkan berdasarkan temuan dari penilaian risiko dan kuesioner pabrik dalam lanskap prioritas.


    Gambar 4: Extension Services Program (ESP) Musim Mas (ESP)

    Kurikulum ESP mencerminkan program petani sawit kami di Fase 1. ESP memiliki penekanan kuat pada praktik pertanian yang baik untuk membantu petani sawit dalam meningkatkan hasil panen mereka di dalam kawasan tertentu.

    ESP memperkuat kemitraan aktif dengan pabrik pemasok pihak ketiga untuk memproduksi minyak sawit secara berkelanjutan dan bekerja menuju kepatuhan NDPE.

    Kami bertujuan untuk melibatkan 5.000 petani sawit pada tahun 2020 melalui ESP.

    Hub Petani Sawit

    Seiring dengan meluasnya cakupan program petani sawit kami dari pabrik sendiri ke pabrik pemasok pihak ketiga, kami menyadari bahwa upaya terkoordinasi berdasarkan wilayah geografis atau tingkat kabupaten sangat penting (Gambar 3). Hub Petani Sawit adalah sebuah panggung di mana perusahaan kelapa sawit berbagi keahlian dan sumber daya untuk melatih petani swadaya, terlepas kepada siapa mereka menjual di dalam kabupaten tertentu (Fase 3 pada Gambar 3).

    Kami sedang berdiskusi dengan LSM untuk membahas bagaimana Hub Petani Sawit dapat diintegrasikan ke dalam program multi-stakeholder mereka yang melibatkan pemerintah dan sektor swasta di tingkat kabupaten.

    Terdapat batasan yang dapat dilakukan oleh satu perusahaan untuk mengatasi masalah NDPE. Kami menyadari keseimbangan antara kemakmuran ekonomi, pengembangan masyarakat, dan pelestarian lingkungan. Untuk merealisasikan Hub Petani Sawit, kami bekerja dengan para pemangku kepentingan yang memiliki tujuan yang sama, seperti pemerintah provinsi, departemen pemerintah, pembeli, LSM dan CSO, petani, penanam kelapa sawit, konsultan, dan petani sawit.

    Hingga saat ini, kami telah membentuk program petani sawit di seluruh Indonesia.

    Program petani swadaya:

    Provinsi Kabupaten Pabrik Kelapa Sawit Musim Mas Nama Pabrik Kelapa Sawit Dimulai pada Petani Sawit yang telah mengikuti pelatihan
    Aceh
    Aceh Tamiang
    PT Pati Sari
    Apr-18
    179
    Central Kalimantan
    Karamuan
    PT Multipersada Gatramegah (MPG)
    Apr-19
    74
    South Sumatra
    Musi Bayuasin
    PT Bastian Olah Sawit (BOS)
    Dec-17
    261
    North Sumatra
    Rantau Prapat
    PT Siringo-ringo (SRR)
    Apr-15
    5569
    Riau
    Indragiri Hilir
    PT Guntung IdamanNusa (GIN)
    Dec-18
    261
    Riau
    Pelalawan
    PT Sinar Agro Raya (SAR)
    Oct-16
    2708
    Riau
    Roakn Hilir
    PT Bahana Nusa Interindo (BANI)
    Oct-16
    3302
    Riau
    Road Hulu
    PT Indomakmur Sawit Berjaya (ISB)
    Oct-16
    4404

    Untuk infromasi mengenai perkembangan petani plasma kami, lihat di sini.

    Petani plasma terikat secara struktural dengan pabrik tertentu melalui kontrak atau perjanjian kredit. Kami menyediakan bahan tanam seperti benih, pupuk, dan pengendalian hama kepada mereka. Kami menginvestasikan sumber daya yang signifikan bagi mereka untuk mengadopsi praktik agrikultur yang baik. Petani plasma umumnya dipandu dan diawasi oleh manajemen pabrik, perkebunan atau skema yang terkait dengan mereka.

    Kami menjangkau petani plasma kami dengan dua cara: melalui koperasi petani sawit yang merupakan pendekatan berbasis individu yang dirancang untuk keluarga yang memiliki perkebunan; dan melalui program desa, pendekatan berbasis masyarakat dirancang untuk desa-desa yang secara kolektif mengelola perkebunan. Kedua program tersebut dimulai secara sukarela pada 1990-an, jauh sebelum pembentukan peraturan Indonesia pada tahun 2007 yang mewajibkan perusahaan untuk memfasilitasi pembuatan skema petani plasma untuk pengembangan masyarakat sekitar.

    Kredit Koperasi Primer Anggota

    Pada tahun 1996, kami memulai skema kredit koperasi primer yang disebut Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA) untuk unit keluarga petani sawit yang memiliki dua hektar lahan atau kurang. KKPA pertama kali diperkenalkan di Kabupaten Pasaman Barat di provinsi Sumatra Barat Indonesia untuk memberdayakan masyarakat setempat agar mendapatkan teknologi dan keterampilan yang diperlukan untuk membudidayakan kelapa sawit. Skema ini memberikan dukungan praktis kepada petani sawit, termasuk jaminan pinjaman bank, pelatihan pertanian, transfer benih, dan pupuk berkualitas.

    Petani sawit di bawah skema KKPA mencapai kepatuhan dengan persyaratan sertifikasi RSPO pada 2010. KKPA di Sumatra Barat adalah skema petani sawit pertama di Indonesia yang menerima Interpretasi Nasional Indonesia dari sertifikasi RSPO P&C. Petani sawit ini sekarang harus benar-benar mematuhi standar RSPO, melakukan satu audit utama setiap lima tahun dan empat penilaian pengawasan tahunan.

    Skema KKPA yang dimulai dengan 762 petani sawit, sekarang memiliki 2.423 petani sawit dengan total area tanam seluas 4.625 hektar (per 31 Desember 2017).

    Skema KKPA terus meningkatkan produktivitas. Pendapatan petani sawit yang sudah direncanakan telah meningkat 30-40% selama beberapa tahun terakhir, dari hanya Rp 86 miliar pada tahun 2015. Program ini telah memberikan banyak manfaat untuk pengembangan masyarakat. Misalnya, koperasi berkontribusi pada pembangunan masjid, taman kanak-kanak dan pusat olahraga dalam ruangan.

    Kebun Kas Desa

    Pada tahun 2000, Musim Mas meluncurkan inisiatif untuk menjangkau petani plasma yang dikenal dengan Kebun Kas Desa (Village Development Program). Tidak seperti program koperasi petani sawit yang menargetkan petani sawit individu, VDP dirancang untuk perkebunan yang dikelola masyarakat. Ini didirikan untuk mempromosikan kemandirian ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah sekitarnya dengan mengelola perkebunan kelapa sawit sementara tanah tetap berada di bawah kepemilikan mereka.

    Melalui VDP, Musim Mas memfasilitasi pendanaan dan investasi untuk pengembangan kelapa sawit sambil memberikan bimbingan teknis dan pelatihan kepada masyarakat tentang budidaya kelapa sawit. Setelah kelapa sawit memasuki tahun-tahun produktifnya, kelapa sawit dijual ke Musim Mas, dan desa-desa yang memiliki perkebunan menerima hasil dari penjualan TBS. Hasil ini digunakan untuk menutup biaya operasional dan sebagai cicilan terhadap biaya investasi.

    Kami memulai program ini di empat desa dengan luas tanah 12 hektar. Saat ini sudah terdapat 16 desa yang berada di bawah naungan program ini.

    Sebagai hasil dari VDP, pendapatan gabungan dari desa-desa hampir dua kali lipat selama beberapa tahun terakhir, totalnya mencapai Rp1 miliar pada tahun 2018.

    language Bahasa
  • EN
  • CN
  • ID
  • language